ARTIKEL LAYANAN

Buka mata untuk kekerasan seksual pada anak berkebutuhan khusus

Maraknya kekerasan pada anak menunjukkan peningkatan yang signifikan dari tahun ke tahun, hal ini menjadi keprihatinan bukan hanya orangtua namun juga berbagai pihak atau stackholder yang bergerak dalam pengawasan, dan perlindungan anak. Sejumlah kekerasan seksual yang terjadi diindonesia seperti yang terjadi sekolah JIS, kasus emon disukabumi, dan masih banyak lagi. Kasus-kasus ini membuat banyak pihak geleng-geleng kepala oleh perilaku penjahat seksual pada anak, mengapa? Karena mereka begitu  rapi dan ada dalam lembaga yang memang dianggap lembaga yang mumpuni dalam pendidikan anak. Menanggapi kasus kekerasan seksual pada anak , banyak  pihak yang mulai berbenah seperti pengawasan orang tua, sekolah dan  masyarakat yang lebih intensif. Selain itu juga sistem pendidikan seksual lebih dini mulai diajarkan kepada anak, tidak hanya guru namun perlu adanya kolaborasi  dan komunikasi antara gur u dan orang tua.

Apa sih kekerasan seksual pada anak? Pelecehan seksual atau kekerasan seksual pada anak adalah suatu bentuk penyiksaan anak dimana orang dewasa atau  remaja yang lebih tua menggunakan anak untuk rangsangan seksual. Bentuk pelecehan seksual pada anak termasuk meminta atau menekan seorang anak untuk melakukan aktivitas seksual (terlepas dari hasilnya), memberikan paparan yang tidak senonoh dari alat kelamin untuk anak, menampilkan pornografi untuk anak, melakukan hubungan seksual terhadap anak-anak, kontak fisik dengan alat kelamin anak (kecuali dalam konteks non seksual tertentu seperti pemeriksaan medis), melihat alat kelamin anak tanpa kontak fisik (kecuali dalam  konteks non-seksual seperti pemeriksaan medis atau menggunakan anak untuk memproduksi pornografi anak (https://id.wikipedia.org/wiki/Pelecehan_seksual_terhadap_anak)

Kekerasan seksual pada anak sangat mempengaruhi perkembangan anak, ada beberapa dampak yang  sering kita dijumpai yaitu :

1.      Dampak psikologis

Dari hasil studi sebanyak 79% korban kekerasan dan pelecehan seksual akan mengalami trauma yang mendalam, selain itu stres yang dialami korban dapat menganggu fungsi dan perkembangan otaknya.

2.      Dampak Fisik

Kekerasan dan Pelecehan seksual pada anak merupakan faktor utama penularan Penyakit Menular Seksual (PMS).

3.      Dampak Cidera Tubuh

Kekerasan dan pelecehan seksual pada anak dapat menyebabkan luka internal dan pendarahan. Pada kasus yang parah, kerusakan organ internal dapat terjadi. Dan dalam beberapa kasus dapat menyebabkan kematian. Hal ini dipengaruhi oleh umur korban dan tingkat kekuatan pelaku saat melakukan kejahatannya.

4.      Dampak Sosial

Korban kekerasan dan pelecehan seksual sering dikucilkan dalam kehidupan sosial, hal yang seharusnya kita hindari karena korban pastinya butuh motivasi dan dukungan moral untuk bangkit lagi menjalani kehidupannya.

            Kekerasan seksual dewasa ini, tidak memandang pada korbanya apakah korban itu anak-anak  dan  remaja, bahkan kekerasan seksual ini juga banyak terjadi pada anak berkebutuhan khusus. Pada umumnya anak berkebutuhan khusus kurang memahami perlakuan kekerasan seksual yang dialaminya. Anak-anak ini menganggap perbuatan tersebut adalah hal yang wajar dan biasa dilakukan oleh orang terdekat atau saudara dengan keluarganya, karena anak berkebutuhan khusus memiliki hambatan  baik itu secara kognitif, fisik dan sosial sehingga anak-anak ini mudah diperdaya untuk dijadikan sasaran kekerasan seksual terutama anak dengan hambatan mental dan autis.

Kekerasan seksual pada anak berkebutuhan khusus juga akan memberikan dampak baik psikologis, fisik dan sosial. Upaya yang mampu dilakukan untuk mengurangi terjadinya  kekerasan seksual selain memberikan efek jera kepada para penjahat seksual , juga pemberian pendidikan reproduksi dan seksual kepada pihak-pihak yang terkait  seperti orang tua, guru dan masyarakat. Selain itu pendidikan seksual secara dini perlu diberikan kepada anak.

Ada beberapa hal yang perlu diajarkan kepada anak-anak berkebutuhan khusus seperti:

1.      Memberikan pemahaman sejak dini  kepada anak terkait bagian-bagian tubuh yang tidak boleh dilihat, dan disentuh oleh sembarang orang yakni bagian mulut, dada, kemaluan, dan pantat

2.      Memberikan pemahaman sejak dini kepada anak terkait siapa saja orang yang boleh menyentuh bagian tubuh anak, yakni ayah atau ibu ketika memandikan anak, dan membersihkan sehabis buang air, juga dokter ketika memeriksa anak namun juga perlu didampingi oleh orangtua.

3.      Kemudian ajarkan anak untuk mengatakan “tidak “ pada saat orang lain menyentuh bagian pribadi anak, menyuruh atau meminta anak untuk membuka baju didepanya, dan ketika orang lain menunjukkan bagian pribadinya, serta menunjukkan bagian pribadi didepan anak atau menunjukkan film/foto telanjang.

4.      Untuk anak berkebutun khusus sangat memerlukan pendampingan dan kolaborasi antara orang tua dan guru dalam mengajarkan pendidikan seksual tersebut.

Kekerasan seksual dapat terjadi dimanapun selama penjahat seksual itu masih ada disekitar kita, oleh karena itu mari kita sebagai orang tua dan pendidik lebih intensif dalam pengawasan kepada anak-anak kita, jagalah mereka karena mereka adalah generasi emas bangsa indonesia dimasa depan.

#Aware, Save, Support

Posting : 27 Dec 2016 10:49 am

Kunjungi kami


Jl. Sentolo - Nanggulan, Bantar Kulon, Banguncipto, Sentolo, Kulon Progo, Yogyakarta

(0274) 2890451
pusatlayananautisdiy@gmail.com
Ikuti Kami :