ARTIKEL LAYANAN

INKLUSIF : ORANGTUA, SEKOLAH DAN MASYARAKAT

 

Penerimaan masyarakat terhadap keberadaan anak berkebutuhan khusus (ABK)  pada masa sekarang ini masih sangat kurang, meskipun sudah banyak upaya yang dilakukan seperti pendeklarasian daerah sadar anak, ataupun saat ini mulai tumbuh  sekolah-sekolah inklusif yang diharapkan mampu menerima anak berkebutuhan khusus. Namun nampak jelas banyak pihak yang belum mampu menerima anak-anak ini. Permasalahan yang sering ditemui dalam sekolah  inklusif adalah ketidakmampuan  para pendidik untuk melayani ABK secara intensif dengan karakteristik hambatan yang mereka miliki dan berbeda dari anak normal.

Pengertian diatas memberikan pandangan bahwa anak berkebutuhan khusus merupakan anak yang berbeda dan memiliki karakteristik yang unik seperti menurut heri purwanto, anak berkebutuhan khusus adalah anak-anak yang memiliki keunikan tersendiri dalam jenis dan karakteristiknya. Perbedaan karakteristik dengan anak normal dalam beberapa hal: (1) ciri mental, (2) kemampuan sensori dan motorik, (3) kemampuan komunikasi, (4) perilaku sosialnya ataupun (5) sifat-sifat fisiknya. Keragaman anak berkebutuhan khusus terkadang menyulitkan guru untuk menemu kenali layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan anak. Sehingga pendidik anak berkebutuhan khusus harus perlu mengedepankan proses assesmen yang matang sebelum memberikan layanan ataupun program pembelajaran.  Hakikat anak berkebutuhan khusus lainya seperti yang dijelaskan oleh Hallahan & kauffman (1989), bahwa anak berkebutuhan khusus adalah anak yang mengehendaki pendidikan khusus dan layanan yang berkaitan dengan kondisi anak. Pemberian penangangan harus disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan anak, penanganan ini nantinya untuk mengembangkan kemampuannya sampai pada batas maksimal.

Anak berkebutuhan Khusus sebagai seorang individu yang berkembang dengan kemampuan dan hambatan nya yang berada dalam masyarakat, harapanya setelah mereka meningkat pada berbagai aspek perkembangan mampu  ABK mampu diterima dan berbaur denganm masyarakat yang memandang mereka sebagai manusia yang perlu dukungan dan bantuan. Oleh karena itu ABK mampu belajar dikelas bersama teman seusianya dalam  sekolah inklusi. Seiring perkembangan zaman banyak lembaga-lembaga pendidikan yang sudah siap mendeklarasikan sekolahnya sebagai sekolah  inklusi yang siap menerima dan memberikan pelayanan bagi anak berkebutuhan khusus.

Pendidikan inklusi didefiniskan sebagai suatu sistem layanan pendidikan  khusus yang mensyaratkan agar semua anak berkebutuhan khusus dilayani di sekolah-sekolah terdekat dikelas biasa bersama teman-teman seusianya (Sapon-Shevin dalam O’Neil : 1994:1995). Sehingga diperlukan sistem disekolah sebagai komunitas yang mendukung pemenuhan kebutuhan khusus bagi setiap anak dan juga penerimaan ABK ke dalam kurikulum, lingkungan, interaksi sosial dan konsep diri.

Sekolah penyelenggara pendidikan inklusi inklusif, tentulah sekolah umum yang telah memenuhi persyaratan yang telah ditentukan, diantaranya terkait keberadaan anak berkebutuhan khusus, penyelenggara pendidikan, manajemen sekolah, sarana prasarana dan ketenagaan. Sekolah penyelenggara pendidikan inklusif juga harus menciptakan lingkungan yang ramah terhadap pembelajaran bagi anak, yang nantinya menciptakan pembelajaran dengan nyaman dan menyenangkan. Sekolah penyelenggara inklusif harus mampu mengakomodasi pembelajaran yang sesuai dengan hambatan dan karateristik setiap anak, yang tidak menutup kemungkinan juga terkait kesulitan belajar yang dihadapi anak.

Akomodasi pembelajaran bagi anak berkebutuhan yang mengalami kesulitan belajar akademik disekolah inklusif, menurut Sari Rudiyati (2011: 10)  yakni akomodasi pembelajaran merupakan penyesuaian dan modifikasi program pendidikan untuk memenuhi kebutuhan anak, yang mengacu pada 4 aspek , (1) materi dan cara pengajaran, (2) tugas dan penilaian kelas, (3) tuntutan waktu dan penjadwalan, (4) lingkungan belajar. Mengacu pada prinsip dan aspek yang terkait, sekolah inklusif perlu menegakkan strategi penentuan akomodasi pembelajaran.  Menurut Sari Rudiyati (2011: 11) sebagai berikut:

1.   Kesulitan menulis, dan membaca permulaan

Kemampuan membaca dan menulis sebagai kebutuhan dasar didalam kehidupan masyarakat maupun substansi akademik di sekolah. Kemampuan ini termasuk bagian yang sulit dipelajarai bagi peserta didik dengan hambatan  intelektual. Sehingga ada beberapa strategi yang dapat diterapkan guru dengan mengacu kondisi peserta didik dan kelas masing-masing. Strateginya yaitu : (1) guru perlu membacakan soal atau materi kepada siswa, (2) guru perlu menuliskan daftar tugas bagi  siswa, (3) guru perlu mengajak teman sebaya siswa untuk membantu siswa (peer tutor), (4) guru memperbolehkan anak keluar untuk menerima pembelajaran tambahan lain seperti kelas remedial. Guru kelas harus menjalin komunikasi dengan guru khusus yang ada disekolah tersebut guna membahas perkembangan anak dan layanan pendidikanya.

2.   Mengerjakan soal lama (melebihi waktu)

Hambatan yang dimiliki anak berkebutuhan khusus juga mempengaruhi proses belajar anak dikelas dan penyelesaian tugas, sehingga banyak diantaraya yang tidak mampu menyelesaikan tugas ataupun lama dalam mengerjakan soal. Strategi akomodasi pembelajaran yang dapat dilakukan guru yaitu : (1) guru perlu memberikan tambahan jam belajar dan pendampingan siswa secara individual, (2) guru perlu menurunkan jumlah dan tingkat kesulitan tugas yang dikerjakan siswa, (3) guru perlu memperbolehkan penggunaan alat bantu bagi siswa, (4) guru perlu memberikan waktu tambahan untuk mengerjakan tugas.

3.   Perhatian mudah teralih

Anak yang kesulitan dalam memfokuskan perhatian dan mudah teralih akan mengalami hambatan dalam memahami materi yang diajarkan  guru.  Kemampuan memusatkan perhatian adalah modal dasar anak dalam keberhasilan dalam pembelajaran. Strategi akomodasi pembelajaran bagi anak yang mengalami  hambatan pemusatan perhatian yaitu : (1) guru perlu memanggil anak saat menyampaikan materi, (2) guru perlu menampilkan peraga atau media yang menarik, (3)  guru menempatkan anak diruangan terpisah saat ujian atau ulangan, (4) guru perlu memastikan perhatian anak sebelum menjelaskan materi.

4.   Kesulitan memahami materi

Kapasitas intelektual anak  yang berada dibawah  normal sering menunjukkan kesulitan dalam pemahaman materi, rentang memori yang terbatas, dan kemampuan analisis yang lemah. Strategi  akomodasi pembelajaran yang dapat dilakukan guru yaitu: (1) guru perlu mengajak teman sebaya siswa untuk membantu siswa (peer tutor), (2) guru perlu memberikan pengulangan materi pada anak, (3) guru perlu membuat PR dan atau tugas yang sesuai dengan kemampuan anak,  (4) guru memperbolehkan anak menggunakan alat bantu seperti komputer, kalkulator, tape recorder, (5) guru perlu memberikan jeda atau istirahat bagi anak yang mengalami kesulitan belajar.

 

5.   Motivasi belajar rendah

Anak berkebutuhan khusus yang mengalami kesulitan dalam belajar, seringkali memiliki motivasi belajar yang rendah hal ini terkait dengan emosi anak. Ketidakpercayaan akan kemampuan dan rasa takut untuk mencoba karena khawatir nanti akan gagal, diolok-olok teman dan takut dikira bodoh menyebabkan kurangnya motivasi anak dalam belajar. Strategi akomodasi yang dapat dilakukan guru yaitu : (1) guru perlu menurunkan tingkat kesulitan materi maupun tugas/PR, (2) guru perlu menggunakan sumber belajar yang sesuai dengan kebutuhan anak dan bervariasi, (3). Guru perlu memberikan bantuan lebih sering saat proses pembelajaran.

6.   Tidak langsung mengerjakan tugas

Anak dengan motivasi belajar yang rendah sering kali tidak langsung mengerjakan tugas yang diberikan. Strategi akomodasi yang dapat diberikan guru yaitu: (1) guru perlu memberikan pengulangan instruksi kepada anak, (2) guru perlu memberikan pertanyaan langsung kepada anak, (3) guru perlu memberikan bantuan dalam mengerjakan tugas.

7.   Suka mengganggu teman

Anak kesulitan belajar dengan penyimpangan sosial salah satunya anak yang suka mengganggu teman yang lainya, perilaku tersebut merupakan manifestasi anak karena adanya kesulitan anak dalam belajar sehingga anak menyalurkan emosinya dengan perilaku yang tidak sesuai. Strategi akomodasi yang diberikan guru yaitu : (1) guru perlu menempatkan anak pada tempat duduk didepan, (2) guru perlu menempatkan anak kesulitan belajar pada kelompok tertentu (sesuai dengan kemampuan ),  (3) guru perlu memberikan tempat ujian yang terpisah.

8.   Pasif

Tingkat keaktifan anak berkebutuhan khusus dengan kesulitan belajar disesbabkan karena kesulitan anak dalam memahami materi dan kemampuan memusatkan perhatian yang rendah. Strategi akomodasi yang dapat diberikan guru yaitu : (1) guru perlu memperbolehkan anak menggunakan alat bantu yang menarik, (2) guru perlu memberikan bantuan dalam mengerjakan tugas, (3) guru perlu mengajak teman sebaya siswa untuk membantu siswa (peer tutor) .

9.   Sering tidak masuk sekolah/datang terlambat (malas)

jarak tempuh yang jauh dari sekolah, seringkali menyebabkan anak berkebutuhan khusus sering tidak masuk sekolah, dan juga rendahnya motivasi anak dalam belajar. Strategi akomodasi yang dapat dilakukan guru yaitu : (1) guru perlu berkomunikasi dengan orangtua  terkait agar orang tua memperhatikan belajar anak dirumah, (2) guru perlu berkomunikasi dengan orangtua agar selalu memberikan dorongan agar anak mau belajar.

      Strategi akomodasi pembelajaran ini harapanya akan membantu anak berkebutuhan khusus dengan kesulitan belajar di sekolah inklusi ataupun sekolah luar biasa, sehingga anak dapat mendapatkan hak-hak nya sesuai kebutuhan anak dan program  layanan yang tepat. Strategi akomodasi ini berbagai pihak harus saling berkoordinasi dan berkontribusi, pihak-pihak yang terkait yakni orangtua, sekolah, dan masyarakat.

 

Sumber :

Sari Rudyati, dkk. (2011). Panduan Penerapan Akomodasi Pembelajaran Bagi Anak Berkesulitan Belajar. UNY

Posting : 20 Apr 2017 10:06 am

Kunjungi kami


Jl. Sentolo - Nanggulan, Bantar Kulon, Banguncipto, Sentolo, Kulon Progo, Yogyakarta

(0274) 2890451
pusatlayananautisdiy@gmail.com
Ikuti Kami :